Total Tayangan Halaman

Rabu, 15 Agustus 2012

Ibu dan anakku

Entah kenapa, aku rasa aku sedang ingin memeluk ibuku malam ini. dengan amat erat aku memeluknya sambil membiarkannya bersandar diatas bahuku. Saat itu aku pun tak kuasa menahan air mata dan segala perasaan yang tercampur aduk di dalam hatiku. Perasan yang sudah terlalu lama kupendam dalam hatiku sendirian. Beberapa kata pun mulai terucap dari mulutku, seuntai kalimat demi kalimat pun mulai tersusun menjadi semua hal yang ingin ku ceritakan pada ibuku.
“Ibu, aku ingin bercerita padamu. Tentang semua kesedihan, kesakitan dan penderitaan batin yang telah aku alami”.

Sambil bercerita aku pun mulai teringat tentang semua kejadian yang pernah aku alami, semua hal pahit yang terus menerus datang dan menerpa kehidupanku dan ibuku.

Ayah memang beda

“Kamu dijemput siapa?” tanya Reza, teman sekelasku.
“Ayah,” jawab saya.
“Kamu selalu dijemput Ayah?” tanya Reza lagi.
Saya mengangguk, “Iya, Ayah selalu jemput. Jemput saja karena pagi dianter mobil jemputan sekolah,” jawab saya lagi.
Biasanya, abis asar Ayah sudaha ada di depan sekolah, tapi sudah sepuluh menit lewat, Ayah belum datang juga. Saya melihat jam tangan dengan gelisah. Takut terjadi apa-apa di jalan.
“Kamu enak, bisa dijemput Ayah,” kata Reza beberapa saat kemudian. Setelah kami sama-sama diam.
“Memangnya kamu tidak pernah dijemput Ayah?”
Reza menggeleng.
“Oh. Tapi kamu pakai antar jemput sekolah, kan?”
Reza mengangguk.
“Berarti tidak dijemput Ayah juga tidak apa-apa.”
Diam-diam saya melihat mata Reza. Sepertinya dia mau nangis. Apa saya salah bicara, ya?
“Kamu kenapa?” akhirnya saya bertanya.
Reza menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin dijemput Ayah,” katanya.
Saya sedikit lega, “Kamu tinggal minta dijemput ayah kamu, kan?” tanya saya kemudian.
“Sudah, tapi Ayah selalu bilang tidak bisa,” jawab Reza sambil menunduk. Sepertinya, dia sekarang sudah menangis. Saya memberi sepotong coklat yang sedang saya makan.
“Tidak bisa kenapa?”
“Ayahku sangat sibuk. Ayah pergi ke kantor pagi-pagi sekali, bahkan ketika aku belum bangun. Ayah pulang kantor malam-malam, saat aku sudah tidur. Aku ketemu hanya hari sabtu dan minggu. Itu pun kalau Ayah tidak ada kegiatan di kantor.”
“Ooooh ...,” tiba-tiba saya teringat Ayah yang sampai sekarang belum jemput juga, padahal sudah lama sekali menunggu.
Ayah saya beda dengan ayah-ayah yang lain. Tiap pagi ayah yang membangunkan saya dan adik-adik saya. Ayah juga yang memandikan saya dan adik-adik saya. Kadang-kadang kalau bunda sedang sibuk, ayah juga yang menyuapi saya dan adik-adik saya sarapan.
Saya pernah tanya, kenapa ayah melakukan itu semua? Ayah jawabnya karena sayang sama saya dan adik-adik saya. Juga sayang sama Bunda. Sejak adik kedua saya lahir, di rumah tidak ada pembantu, jadi ayah dan bunda berbagi tugas mengurus saya dan adik-adik saya.
“Reza, jemputan kamu sudah mau pergi,” kata saya.
“Oh iya, aku pulang dulu, ya,” kata Reza.
Saya mengacungkan jempol.
“Kapan-kapan boleh kan, aku minta dijemput ayah kamu?” kata Reza sebelum pergi.
Saya tertawa kecil, “Ok. Nanti saya bilang Ayah, ya, kalau tidak sibuk,” kata saya.
Sepeninggal Reza, mobil Ayah datang. Saya tersenyum lebar melihat mobil ayah berhenti tepat di depan saya. Ayah menyuruh saya masuk mobil. Tidak lama kemudian mobil melaju kembali ke rumah. Ayah saya juga sibuk seperti ayah reza, tapi selalu punya waktu untuk saya. ah, ayah saya memang beda.

Best Friend

Suatu hari, ketika saya masih menjadi mahasiswa di sekolah tinggi, saya melihat seorang anak dari kelas saya berjalan pulang dari sekolah. Namanya adalah Kyle.Sepertinya ia membawa semua buku-bukunya. Saya berpikir sendiri, “Mengapa ada orang yang membawa pulang semua buku-bukunya pada hari Jumat Dia benar-benar harus menjadi kutu buku.” Aku telah cukup akhir pekan terencana (pihak dan permainan sepak bola dengan teman saya besok sore), jadi Aku mengangkat bahu dan melanjutkan.
Saat aku sedang berjalan, saya melihat sekelompok anak yang berjalan ke arahnya. Mereka berlari ke arahnya, mengetuk semua buku keluar dari lengan dan tersandung begitu ia mendarat di tanah. Kacamatanya melayang, dan aku melihat mereka mendarat di rumput sekitar tiga meter dari dia. Dia melihat ke atas dan saya melihat kesedihan yang mengerikan di matanya. Hati saya pergi kepadanya.Jadi, saya berlari ke arahnya dan ketika ia merangkak berkeliling mencari kacamatanya, dan aku melihat air mata di matanya.
Saat aku menyerahkan kacamatanya, aku berkata, “Orang-orang ini tersentak Mereka benar-benar harus hidup..” Dia menatapku dan berkata, “Hei terima kasih!”Ada senyum lebar di wajahnya. Itu adalah salah satu dari mereka tersenyum yang menunjukkan rasa terima kasih nyata. Aku membantunya mengambil buku-bukunya, dan bertanya di mana dia tinggal. Ternyata, dia tinggal dekat saya, jadi saya bertanya mengapa saya belum pernah melihat dia sebelumnya. Ia mengatakan ia telah pergi ke sekolah swasta sebelum sekarang. Saya tidak pernah bergaul dengan anak sekolah swasta sebelumnya. Kami berbicara sepanjang jalan rumah, dan aku membawa buku-bukunya. Dia ternyata anak pretty cool. Aku bertanya apakah ia ingin bermain sepakbola pada hari Sabtu dengan saya dan teman saya.Dia menjawab ya. Kami menutup akhir pekan dan semakin saya mengenal Kyle, semakin saya menyukainya. Dan teman-teman saya mengira sama dia.
Senin pagi datang, dan ada Kyle dengan setumpuk buku lagi. Aku berhenti dan berkata, “Sialan anak, Anda gonna benar-benar membangun beberapa otot serius dengan tumpukan buku setiap hari!” Dia hanya tertawa dan menyerahkan setengah buku. Selama empat tahun berikutnya, Kyle dan saya menjadi teman terbaik. Ketika kami senior, kita mulai berpikir tentang kuliah. Kyle memutuskan Georgetown, dan saya akan Duke. Saya tahu bahwa kami akan selalu menjadi teman, bahwa mil tidak akan pernah menjadi masalah. Dia akan menjadi dokter, dan aku akan untuk bisnis dengan beasiswa sepakbola. Kyle mengucapkan pidato perpisahan kelas kami. Aku menggodanya sepanjang waktu tentang menjadi nerd. Dia harus mempersiapkan pidato untuk kelulusan. Aku sangat senang itu tidak saya harus bangun di sana dan berbicara.
Hari wisuda, aku melihat Kyle. Dia tampak hebat. Dia adalah salah satu dari orang-orang yang benar-benar menemukan dirinya selama sekolah tinggi. Dia diisi dan benar-benar tampak baik dalam gelas. Dia memiliki lebih dari tanggal saya dan semua gadis mencintainya! Wah, kadang-kadang aku cemburu. Hari ini adalah salah satu hari. Aku bisa melihat bahwa ia gugup pidatonya. Jadi, saya memukul punggungnya dan berkata, “Hei, orang besar, Anda akan menjadi besar!” Dia menatapku dengan salah satu terlihat (yang benar-benar berterima kasih) dan tersenyum. ”Terima kasih,” katanya. Saat ia mulai pidatonya, ia berdeham, dan mulai.
“Wisuda adalah saat untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka yang membantu Anda membuatnya melalui tahun-tahun sulit orangtua Anda, guru Anda, saudara Anda, mungkin pelatih … tapi kebanyakan teman.. Saya di sini untuk memberitahu kalian semua bahwa menjadi seorang teman dengan seseorang adalah hadiah terbaik yang dapat memberi mereka saya akan menceritakan sebuah kisah.. “ Aku hanya melihat teman saya dengan rasa tak percaya saat ia menceritakan kisah hari pertama kami bertemu. Dia telah merencanakan bunuh diri selama akhir pekan. Dia berbicara tentang bagaimana dia telah membersihkan lokernya sehingga Ibu itu tidak perlu melakukannya nanti dan membawa pulang barang-barangnya. Dia tampak keras saya dan memberi saya senyum kecil.”Untungnya, saya diselamatkan teman saya menyelamatkan saya dari melakukan tak terkatakan..”
Aku mendengar napas dalam melalui kerumunan karena hal ini anak, tampan populer memberitahu kami tentang saat nya paling lemah. Aku melihat Ibu dan ayahnya menatapku dan tersenyum senyum bersyukur sama. Tidak sampai saat itu saya menyadari kedalaman itu. Jangan pernah meremehkan kekuatan dari tindakan Anda.
Dengan satu gerakan kecil anda dapat mengubah hidup seseorang.
“Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita ketika sayap kita memiliki kesulitan mengingat bagaimana terbang.”
–end—

Sebuah janji

“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***

Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Wina harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Wina jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.

“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” rutuk Wina. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Wina merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Wina berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Wina benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Wina nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Wina mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Wina terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.

Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Wina yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Wina mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.

“Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.

“Makan tuh sakit!!” ejek Wina sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Wina pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut.
***

“Wina….”

Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Amel teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Wina membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Wina emang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Amel malah menjitak kepalanya dari belakang.

“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas cewek putih tersebut kalo lagi ngambek.

“Sori deh Mel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang lebar.

“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Wina benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.

“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Alex lho.”

“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Wina membela diri.

Sejenak Amel terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget. ” ujar Amel polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Alex nggak suka sama gue.”

“Tau ah gelap!”
***

Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Wina sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Amel masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas Wina menjitak kepala Amel. “Duluan ya, Mel. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Amel hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.

Saat Wina membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar. “Eh, sori..” ucap Wina kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Wina langsung ngasi tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci baget!!!”

Jujur Alex udah bosen kayak gini terus sama Wina. Dia pengen hubungannya dengan Wina bisa kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Amel.” ucap Alex dingin sambil celingak celinguk mencari Amel. “Hey Mel!” ucap Alex riang begitu orang yang dicarinya nongol.

“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Amel sejenak melirik Wina. Lalu dilihatnya Alex mengangguk bertanda mengiyakan. “Win, kita duluan ya,” ujar Amel singkat.

Wina hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Amel dan Alex yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Alex selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Alex tidak menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Alex juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.
***

Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambut Wina hingga menetes ke kemeja putihnya. Wina nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.

“Maksud lo apa?” bentak Wina menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.

“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Wina. “Tha, mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Wina. Thata langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka.

“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriak Wina dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Linda. Linda terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Wina diem aja. Ia juga tau kalo Linda satu kelas dengan Alex. Wait, wait.. Alex??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Lex, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!

“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriak Wina sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Wina benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu dikasi pelajaran.

Kedua teman Linda, Thata dan Mayang dengan sigap mencoba menahan Wina. Tapi Wina malah memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Mayang si cewek sawo mateng.

Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Wina dengan fanta jeruk. “Jauhin Alex. Gue tau lo berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Alex. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas Alex?!!”

“Maksud lo?” ledek Wina sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Alex. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”

Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Wina. “Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Wina. Kesabaran Wina akhirnya sampai di level terbawah.

Buuugg! Tonjokan Wina mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Wina kalah. Tak perlu lama, Wina sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.

“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Wina juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Wina sudah tau. Tapi Ia nggak tau bener apa salah.

“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Wina melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Wina dan membantunya untuk berdiri. “Lo nggak apa-apa kan, Win?”

“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***

Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Wina dan Alex berada di ruang UKS. Wina membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Alex memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Wina. Wina lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Alex nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.

“Ntar lo pulang gimana?” tanya Alex polos.

“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Wina jutek. Rasanya Wina makin benci sama yang namanya Alex. Gara-gara Alex dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Alex nggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.

“Tadi itu cewek lo ya?” ucap Wina dengan wajah jengkel.

“Nggak.”
 
“Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutuk Wina kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Alex. Aduuuhh…

Alex sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Alex sambil menunjuk Wina.

Wina diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Alex menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa pulang sendiri kan?” tanya Alex.
 
“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”
 
“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas Alex sejelas-selasnya. Alex pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.
 
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
 
Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Wina sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Wina, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Alex karena Amel juga suka Alex. Tapi sekarang?

“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Alex berbicara tepat saat Wina sudah berada di ambang pintu UKS.

Wina diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Alex yang termenung sendiri.
***

Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Amel belum datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Alex selalu terbesit di benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Alex mau pindah apa nggak, batin Wina. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”

“Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba-tiba udah ada disamping Wina. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Wina membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Wina dan Alex saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.

Dear wina,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue.

“Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Amel tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.”

“Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”
Amel terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Alex suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Alex. Janji?” lanjut Amel sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya Wina menolak. Amel terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewakan Amel. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.

“Janji..” gumam Wina lirih.
***

Pengorbanan sahabat

Masuk sekolah baru adalah hal yang paling disukai oleh semua siswa.hari ini aku menjadi murid smp..senangnya aku bisa punya teman baru.pagi itu hari ospek pertama.lonceng sekolah berbunyi dan kami semua berkumpul di depan sekolah.
‘’semua murid baru diharapkan memakai atribut mos seperti dasi,topi and ember’’

Astaga,,aku baru tersadar bahwa aku lupa membawa dasi
‘’dimana dasi kamu’’kata seorang senior yang ada didepanku.
‘’maaf kak aku lupa bawa dasi’’kata ku dengan ketakutan
‘’sekarang kamu keluar dari barisan dan jangan kembali sebelum membawa dasi’’

Akupun keluar dengan lemas.tidak ada took dekat sini apa yang harus aku lakukan??
‘’tunggu kamu butUh ini kan??’’kata seseorang di belakangku
‘’iya kak aku sangat butuh dasi untuk mengikuti mos ini’’
‘’kamu boleh pke kebetulan aku mempunyai dua’’
‘’makasi banyak..nama aku mery.’’kata ku
‘’aku melan.ya sudah kita balik kebarisan’’kata melan
Mulai saat itu kami berdua menjadi akrab.apalagi kami ditempatkan di 1 kelas.banyak yang kami lakukan bersama.dan tak terasa sudah 2 tahun kami bersahabat.
Aku dan melan mempunyai hobby yang sama yaitu bermain catur.dan kebetulan di sekolah kami di adakan seleksi catur untuk mewakili sekolah.di sekolah hanya aku dan melan yang bisa bermain catur di kaum hawa.
‘’aku akan sangat sedang bila memegang piala juara catur apakata dunia yach??’’kata ku kepada MELAN
‘’memangnya kamu sangat suka dengan catur??’’
‘’dari kecil aku sudah bisa bermain catur dan sampai sekarang bisa menang lomba catur kebanggaan bagi ku’’kata aku
‘’aku akan mendukung kamu’’
‘’tentu sahabat ku sayang tanpa dukunganmu aku tidak akan jadi apa-apa’’kata aku sambil memeluk dy
‘’hahahahaha kamu kalau urusan gombal juara 1’’
Percakapan kami terhenti dengan bunyi lonceng pertanda jam pulang..
‘’panggilan kepada merry siswa kelas 2b untuk menghadap kepala sekolah’’terdengar bunyi di setiap ruangan

Ada apa yach..apa aku ada salah??pikiran ku berkecamuk
‘’selamat mery kamu terpilih mengikuti lomba catur’’ kata bapak kepala sekolah
‘’tapi pak di sekolah ini yang bisa catur aku dan melan sedangkan kami belum diuji’’
‘’tapi kami menilai bahwa kamu yang lebih bisa jadi siapkan dirimu 2 hari lagi lomba akan berjalan’’
‘’baik pak’’aku langsung keluar
Senang rasanya aku bisa ikut tapi bagaimana dengan mery?? Apakah dia sudah tau kalu aku yang diutus?? Atau dia akan marah kepada ku..tapi kemana mery sudah 2 hari dia tidak masuk sekolah.akupun langsung mengambil tas dan pulang mencari mery dan tidak mengikuti pelajaran selanjutnya karena percuma bagi ku kalau dia tidak ada aku tidak akan konsentrasi.

Rumah tembok hijau itu sepi.tidak ada seorangpun di sana.aku menunggu dengan cemas dan tiba-tiba muncul fony adiknya melan.
‘’ehw ada k melan ayo masuk k merymungkin lagi istrahat”
‘’iya mkasi’aku pun langsung masuk kekamar melan karena aku sudah sering ke sana jadi tidak asing lagi buat aku.
‘’melan..astaga kamu pucat sekali..kamu sakit apa??’’kata ku saat melihat melan
‘’mery,,aku tidak apa-apa aku hanya sakit kepala biasa’’ayo ke dapur pasti kamu sudah lapar

Kami pun keluar dari kamar dan sepintas aku melihat obat diatas meja
‘’bagaimana dengan sekolah’’kata melan saat kami makan bersama
‘’sekolah baik-baik saja tapi aku minta maaf mer karena aku yang terpilih untuk lomba catur’’
‘’hahahahaha kenapa kamu harus minta maaf?? Kata melan
‘’kita kan belum diuj’’
‘’mery..mery mau di uji atau tidak seluruh dunia tau kalau kamu yang pantas ikut.aku sedang karena kamu bisa ikut.dan aku akan sangat bangga kalau foto bersama kamu memegang piala’’
‘’hahahaha belum lomba saja sudah pesan piala tapi aku janji aku akan berusaha tapi kamu mau kan temani aku mengikuti lomba??’
‘maaf sayang aku tidak bisa ikut karena aku harus sekolah kan?? ’kata melan
Kami pun melanjutkan makan karena aku juga sudah sangat lapar.

Hari perlombaan tiba dan aku berangkat hanya didampingi guru.tapi aku janji dalam diri aku,aku akan berusaha demi sahabat aku.perlombaan seleksi kecamatan berjalan dengan lancer dan aku bersyukur karena aku bisa menang dan akan mewakili kecamatan kami untuk lomba kekabupaten.
Paginya aku pagi-pagi sudah kesekolah dengan tidak sabar menunggu melan didepan.sejam menunggu akhirnyamelan datang juga.

Tapi wajah melan yang semakin pucat dan kondisinya snagatlemah
‘’mel,,aku punya gembira’’

Kata aku sambil memeluk melan
‘’berita gembira apa??’’kata melandengan cuek
‘’aku berhasil menang dan 5 hari lagi seorang mery akan mewakili kecamatan kita beadu di kabupaten’’
‘’baguslah kalau begitu’’
‘’iya semua ini berkat kamu sahabatku tersayang’’kata aku
‘’tidak mer,,kamu berhasil bukan karena aku dan semuaini karena usaha kamu sendiri’’kata melan dan pergi meninggalkan aku.
Aku hanya binggung melihat kepergian dia.ini seperti bukan melan yang aku kenal..biasanyadia sangat merespon segala yang aku omong…ada apa dengan dia??
Dengan lemas aku masuk kedalam kelas.hari ini pelajaran fisika dan pelajaran yang aku benci..

Kemana tasnya melan??kenapa berpindah kebelakang??belum sempat aku bertanya ibu guru fisika sudah masuk dan terpaksa aku duduk sendiri.
‘’baik anak-anak kita akan sama-sama mengerjakan tugas halaman 30 dan mery kamu akan mengerjakan soal nomor 1’’kata ibu guru

Bagai disambar petir aku bangun dengan lemas
‘’maaf ibu aku belum mengerjakan soal itu”kata aku sambil ketakutan
‘’bagus..sekarang kamu berdiri didepan kelas sampai ada yang mau mengantikan kamu’’kata ibu guru dengan marah
‘’biar aku saja yang mengantikkan mery bu,,,’’kata melan
‘’baik,,kamu boleh mengantikan dia dan kamu mery silakan duduk”
“baik ibu’’
Aku tau walaupun dia agak cuek sama aku tapi dia tetap peduli sama aku.itulah cri khas sahabat yang aku kenal.
Tapi,,,,,,,hari berlalu melan semakin jauh dari aku..dia tidak pernah mau canda bareng,kerja tugas bareng dan pulang bareng.terasa sepi tanpa dia ada di samping aku

Aku jadi binggung dengan semua sikap dia….
‘’apa salah aku melan sampai kamu seperti ini??’’kata aku sama melan
‘’kamu tidak punya salah apa-apa aku hanya ingin kamu terbiasa tanpa aku’’
Apa yang terjadi..kadang aku berfikir bahwa melan menjauh dari aku karena bukan dia yang mengikuti lomba tapi aku.aku jadi benci sama dia..mengapa melan yang aku kenal jadi egois seperti ini??
5 hari berlalu aku lalui tanpa melan dan saatnya aku harus mengikuti lomba rasanya aku mau minta dukungan dari melan karena dia yang bisa buat aku semangat.aku ke rumah melan tapi kata orangtunya melan kerumah kakeknya.berubah dan sangatberubah..melan tidak pernah melupakan sekolah dan tidak pernah melupakan aku tapi sekarang berbeda..

Hari perlombaan tiba dan aku pergi tanpa dukungan melan.tapi aku bersyukur karena aku bisa menjadi juara ke2..dengan senang aku memegang piala dan piagam.aku jadi teringat kata-kata melan dia ingin foto bersama saat aku memegang piala.sepulang dari lomba aku langsung kerumah melan,,,,tapi mengapa ada tenda didepan rumah melan?? Dan terlihat bendera kuning.astaga jantungku berdetak kencang siap yang meninggal??
‘’k melan’’ suara tangisan fony dari dalam dan memeluk aku
‘’ada apa fony.ada apa??siapa yang meninggal??kata aku sambil ketakutan
‘’aku sudah tidak punya kakak lagi.kakak aku melan telah pergi’’kata fony sambil menangis
‘’ti….ti…tidak mungkin’’aku langsung berlari kedalam

Aku seperti bermimpi melihat sesosok sahabat yang selalu ceria damping aku,penuh canda kini telah kaku dan terbaring…….
‘’ini tidak mungkin,,kenapa kamu bisa jadi begini..apa yang terjadi melan??mengapa kamu meninggalkan aku??kamu lihat aku sudah bawa piala dan ini ada kamera kita bisa foto bersama jadi bangun yach’’kata aku sambil menangis sambil memegang kepala melan,akupu histeris dan pingsan
Saat tersadar ada mamanya melan disamping aku.dan ternyata melan sudah mengidap kanker otak 2 tahun yang lalu tapi tidak ada yang tahu.melan menutup rapat semua ini.keluarganaya tahu baru sekitar sbukan yang lalu itupun sudah sangat parah.

Kini aku baru tahu ternyata kecuekan dia akhir-akhir ini karena dia ingin buat aku terbiasa tanpa dia.bahakan kisah-kisahnya yang aku baca di diary pribadinya.dia juga yang meminta kepala sekolah memilih aku karena dia ingin mewujudkan keinginan aku..aku memang sahabat yang gagal tanpa tau penderitaan sahabat aku.dan di akhir tulisannya ada sebuah tulisan

Mery sahabatku maafkan aku karena sudah membuatmu kecewa.tapi kamu harus tahu bahwa semua itu karena aku ingin kamu terbiasa tanpa kamu. tapi kamu tetap sahabat aku dan tetap semangat bersekolah.melan

Kini tinggalah batu nisan yang menjadi tempat curhat ku.melan sahabAtku telah pergi dan tak akan pernah kembali.tunggu aku disana untuk kita bertemu lagi..Aku sayang kamu sahabatku,,,,,,,,,,

Perpisahan

Saat indah itu terasa cepat berlalu, tak terasa kini aku harus meraskaan yang namanya saat perpisahan. Hah, aku paling benci membicarakan perpisahan. Entah perpisahan dalam bentuk apapun. Aku benci dengan kata perpisahan, karena perpisahan hanya kan mendatangkan kesedihan. Bagiku tak ada perpisahan yang indah. Siapa sih yang menginginkan perpisahan. Tapi ini lah dunia, tuhan telah menciptakan segala sesuatu itu berpasangan, jika ada tawa maka akan ada tangisan, jika ada kebahagiaan maka suatu saat akan ada kesedihan dan seperti yang kurasa seperti saat ini, aku telah mengenal yang namanya pertemuan maka konsekuensinya adalah aku harus mau mengenal perpisahan.

Sedih sekali aku memikirkannya. Tapi apa mau dikata, inilah takdirku. Suatu ketika aku pasti akan merasakan ditinggalkan oleh orang-orang yang aku sayangi. Sahabat, saudara dan orang tua. Terkadang aku berfikir apakah adil jika Tuhan hanya menciptakan pertemuan tanpa ada perpisahan. Hah itu sih hanya pemikiranku.
***

Aku terkejut mendengar suara hp-ku berdering, kulihat disana nama yudi sahabatku menelpon, sedetik kemudian sudah terdengan percakapan kami
“halo, si” terdengar suara diujung sana
“ia halo, napa yud” jawabku
“ga papa, pengen aja nelpon kamu, ngabisin gratisan.hehehhe”
“ah resek lu..” jawabku dengan bersungut-sungut, diujung sana terdengar suara yudi tertawa terbahak-bahak.

Kami berdua berteman akrab, gara-gara dia sering curhat masalah pacarnya ke aku. Em kata dia aku enak diajak ngobrol, dan selalu bisa buat dia tertawa. Hem bukan sombong sih, tapi emang aku orangnya paling suka ngelucu. Atau mungkin menurut yudi, aku ini seperti orang-orang yang ada dipanggung ovj. Sehingga Itu mungkin yang membuat yudi ngerasa seneng curhat sama aku.
“ada apa lagi sih?” tanyaku kemudian
“hah biasalah, gue pengen putus dengan pacarku, capek ku dengan dia, ku dibohongin terus, emangnya aku cowok apaan”
“ow,,,emang kamu cowok?” tanyaku meledek
“ah lu, gua bkn cwok Cuma lekong,hehhe” kembali pecah tawa kami,
Hari-hariku terasa menyenangkan, karena teman-temanku yang selalu bisa buat aku tertawa, yah timbal balik kan, namanya uga makhluk sosial. Tapi terkadang aku sering dibuat pusing oleh masalah-masalah teman-temanku. Ada-ada saja masalah mereka, dan yang pasti sih kebanyakan masalah percintaan. Dan terkadang bisa mambuat ku merasa bersalah juga.

Seperti ketika aku betelfonan dengan temanku yudi, karena dia itu sebenarnya pacar dari teman perempuanku. Pernah aku betelfonan dengan yudi, padahal sicewek ada didekatku, dan anehnya sicewek tak mengerti atau aku yang terlau pintar menutupinya, entahlah atau mungkin dia tau tapi diam. Dan Sebenarnya kalau misalnya aku dibilang TMT gag juga, karena emang hubungan kami hanya sekedar teman.

Hingga suatu saat temanku yudi putus dengan pacarnya, sicewek tadi yah sebut aja Rita. Sebenanya si Rita tu masih suka sama si YUdi, tapi yah namanya juga perasaan, gag bisa dipaksain. Akhirnya yudi dan rita putus. And dampaknya ya si Rita gag mau main lagi ke rumahku, mau tau kenapa alasanya. Karena dia udah gag butuh aku lagi. Haduh mengenaskan sekali hidupku.
***

Aku tinggal dengan kakak sepupuku, karena kami berdua sama-sama kuliah, ditempat yang sama. Dia punya cowok namanya Hendra, tapi cowoknya gag pernah akur sama aku, tiap kali bertemu selalu aja bertengkar. Kadang kakak ku sampai heran. Ya udah mau gimana lagi. Kodratnya gitu lagi. Dan lucunya setelah ayukku putus dengan cowoknya ini, aku malah deket sama dia, aduh parah banget.

Nah usut-diusut ternyata penyebab putusnya mereka ini adalah karena si yudi suka kakak ku. Wa fantastik. Dan si yudi emang mengakuinya sama aku. Aku sih nyantay aja sama hal itu. Wajar aja sih, dan gag ada salahnya juga karena yang namanya mantan ya udah mantan, gag da hubunganya lagi. Tapi sebenarnya adalah masalah dibalik semua itu, mantan kakak ku adalah kawan si Yudi, mereka dulu satu sma, hah aku juga pusing.

Akhirnya yudi nembak deh si kakakku, so apa yang bakalan terjadi kalau mereka jadian. Aku harus rela jauh sama si YUdi.
“lus, aku bingung,!” kata yudi dalam telfon
“bingung kenapa si yud?”
“bingung, disatu sisi ku suka sama kakakmu, tapi disatu sisi aku kawan hendra,kalau misalnya aku jadian sama kakakmu gimana reaksi teman-teman?”. Kata yudi panjang lebar
“yah mau gimana lagi, emang susah, perasaan gag bisa di satuin ama logika”
“ah ku ngejomblo aja deh”
“ahh kamu kok ngejomblo yud, gag percaya aku”
“yah liat aja deh ntar, aku pasti bisa jomblo”
“kalu kakak ku nerima kamu gimana?” tanyaku mencoba menggoyahkan pendirian yudi
“yah entahlah, jalani aja”
***

Semalaman aku telfonan dengan yudi, aku sudah punya firasat buruk nih. Alhasil keesokan paginya kakak ku gag negur aku sama sekali, aku kedepan dia kebelakang, ku susul kekamar eh ku ditinggal tidur. Haduh salah lagi nih aku.. parahnya seharian aku gag bertemu dengan kakaku, aku keluar karena mengurus bisnis kecil-kecilanku. Lumayan buat jajan. Malam hari aku baru pulang. Hem aku sedikit lega karena wajah ayukku terlihat sumringah, aku sudah menangkap ada sesuatu disana. Pasti…!!!!!!

Hem baguslah kalau begitu. Tapi disatu sisi aku merasa kehilangan. Kehilangan sahabatku. Tidaka akan ada lagi yang akan menelfonku, berceloteh ria, sambil bercerita tentang kehidupanya. Hah aku harus siap batin deh. Belum apa-apa aja yudi udah berubah. Dia udah gag pernah hubungi aku lagi. Haruskah aku kehilangan sahabatku. Aku mengerti posisinya, dia ingin menjaga perasaan kakakku, kak sinta. Yah aku mengerti itu, aku juga akan bahagia melihat orang-orang yang akus sayangi bahagia. Kak sinta begitu baik denganku, aku tak mau merusak kebahagiaannya, aku juga menyayangi sahabatku, aku juga ingin melihat dia bisa tersenyum bahagia dengan orang yang dia sayangi.

Aku sadar akan posisiku, aku hanya menjadi sahabatnya, meskipun kini aku merasa jauh dengan sahabatku, tapi aku berharap gag aka nada kata ptus sahabat, apa lagi kata perpisahan. Tapi kalau misalnya hal itupun terjadi, aku tak apa. Hidup ini memang misteri. Dan panggung sandiwara. Suatu saat aku harus siap untuk kehilangan seseorang yang aku sayang.

Dan setelah aku jauh dari yudi, aku juga jauh dengan hendra, entah apa yang menyebabkan hendra menjauhiku, dia tiba-tiba saja marah padaku,
"udahlah gag usah temenan sama aku lagi, aku emang gag pantas jadi temen kamu" itu adalah kata terakhir hendra,
setelah itu dia tak pernah lagi menghubungiku. mungkin memang nasibku, ditinggalkan oleh orang-orang terdekatku. tapi aku percaya kelak aku akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus, dan tidak akan meninggakanku.^_^

Broken Heart

Titian itu nama panggilanku. Nama lengkapku sih Gracia titian cahyani. Sebenarnya nama panggilanku banyak boleh titin, titian, aci, grace ah..terserah kalian mau panggil apa pokoknya jangan cahya soalnya kalau kamu kerumahku cari aku dengan nama cahya yang nemui ya masku karena semua saudaraku pasti belakangnya cahyani hehehe...:D maklum.

Aku tinggal tidak dalam keluarga lengkap, mewah dan serba ada. Aku tinggal di Washington ( Wonosobo, Banyuwangi dekat rumah toton ) . Aku terpaksa transmigrasi dari Jakarta karena aku harus ikut kakaku dan adikku. Aku pindahan dari Jakarta ke Wonosobo sekarang ke Banyuwangi di dekat rumah temanku Toton si cowok keren, berkharisma dan jago sepak bola.
Di sini aku berteman dengan Toton dan Menik. Kita bersahabat sudah lama 3 tahun. Dan sejak 1 tahun lamanya aku juga memendam rasa luar biasa. Siapa lagi kalau bukan sama Toton, dia tidak tahu semua ini yang tau cuma Menik.
“ Nik,...kamu diem looo jangn combe . Ah gk jadi ezt.. “ kata Tititan
“ ha...gj bilang belum udah gk jadi iiihhh kamu hwhwhwh. K’biasaan beud “ kata Menik
“ hem.. begene aku itu sebenere iku ngene lo aku iku saiki lagi tresno neng arek haha.. biasa kamu pasti tau kan maksudku “
“ halah...mulai medokk kowe, emang sapa-sapa ? “ kata Menik dengan jutek
“ Kasih tau gak ya ??? hehehehe emmm gamna ya ? “ dengan menatap2 kedua telunjuk Titian
“ halah...ora ilok ngunu ku dusoooo koe... mlebu neroko koe !! haha “ dengan candaan Menik
“ yaya... emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm sama tu itu Toton ?? ^_- husssssssssttttttt diem awas kau bilang tak jitak kau nanti hhihi :D
“ soo....apa gue harus bilangg WoOOOoooOOoooOOwwwwwWWWWW gtuhh. woOoow Woow Woow !!! tapi biasa coklat-coklat ?? kata Menik dengan rayu-rayu
“ hemm...biasah !!! yaya “ kata Titian dengan tak ikhlas

Setelah gak lama Toton datang menghampiri mereka dengan maksuud ingin mengajak mereka jalan-jalan nanti hari Sabtu untuk Malming
“ heyyyyyy... “ ujar toton
“ waduuuu...kamu baru datang apa udah lama ton ???????????????? “ kata Titian
“ barusan mang napa ??? , ehhhh kamu kamu mau gak ? “ kata toton
“ oh ya dah syukur. Apa ?? “
“ ayo kita malmingan yuk besok boring plend lburan gnih. Mau yah nik tin ??”
“ okeh2 stuju jam 7 ya.. sekalian mau beli coklat “
Malam minggu sudah datang, merekapun bergegas untuk refreshing. Namun dibalik itu Titian dan Menik punya rencana tersendiri untuk nanti. Titian berencana menembak toton, meskipun dia yakin 80% saja dia tetap antusias dengan rencananya. Meskipun titian beda dari tipe Toton yang cantik, gauul, smart dan tentu humoriz. Titian Cuma 25% dri tipe Toton yah itulah Cuma smart aja. Tapi apa salah untuk mencoba tapi dia juga akan menerima risikonya nanti.

Tepat jam 7 mereka berangkat. 12 menit mereka sudah sampai di Alun-alun Kota Banyuwangi namun Titianyah gitu deh dag dig dug hatinya karena kayaknya saat itu hari Galau / kemerdekaannya yahh
“ Nik, gimana nih bantui lo yah.. gak ada coklat klau gk ada tembak !! “ bisik Titian ke Menik
“ haduuhh..io2 ojo kuwwatir Tin, rebes-rebes hehehe iya-iya tapi jangan salain aku law dditolak loo siap-siap Broken heart heheheh galauuu hahah , cabuttt yuk “ kata Menik
“ ahhhhh..jangan gitu donk nanti law aku jadian aku kasih coklat ma PJ deh... duuuhh q takut nii , ahh Pasrah ae wezt “ kata Titian

Saat mereka duduk di dekat Beringin besarr yang serem , saat itu Titian mulai beraksi tingkahnya yang dari dulu ia tahan dan lega untuk dia ungkapkan. Dan saat itu dia juga masih sempet-sempet untuk bakatnya yah itulah GOMBAL dia memang ahli dalam gombal-gombal biasa untuk merayu hati yang cowok ia sukai. Tapi kali itu gagal karena mungkin Toton lagi gak mood kali ya.
“ eh...Ton kok diAlun-alun rame yah. Wahhh populasi rayap nih hehehe :D ?” kata Titian
“ yayalah secara Malming gitu Tinn ya kalau senin paling” juga secuil orang itu aja untung kalau secuil law 1 gmna. Kuburan itu hwhwhwhw aneh” wae koe “ kata Toton agak judes
“ ihhhh..gak usah serius juga kaleeeeee...iuhhh, Ton kita temenan udah 3 tahun kan dan itu gak lama kan pasti selama ini kita juga mennyimpan rasa i’ll feel atw aplah.” kata Titian
“ iya ya sahabat sejati ya kita semua .. tumben bicara gini dalam rangka apa nih “ tanya Toton
“ kamu jangan marah ya plissss “ mohon Titin
“ mmmmm apa ??? penasaran jadinya nih ?? “ kata Toton
“ sebenarnya itu emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm sebeneernya emm itu sebenarnya aku emmmm giamana yah plis jangan marah loo ya sebenere itu emmm ICH DICH LIEBEN. Awwwwwww jangan marah !! “ malu Titian
“ haaaa... apa itu ??/” tanya Toton
“ aduuhhh itu bahasa perancis Ton artinya itu Titian cinta kamuuu hehehehey “ saut Menik
“ aduuuuuuwwwwwwwwwww......iiiiiiiihhh malu aku jadiya taooo !!!” kata Titian
“ haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....apa kamu bilang kita sahabat Tin kenapa jadi begini wiihhh sumpah aku gak nyangka tapi sebelumnya maaf aku gak bisa Tin aku sudah punya inceran lain dan besok aku akan tembak temenku dan aku cinta mati ma dia aku gak akan donk berpindah hati ke oraang lain. Plis kamu janga marah kita sahabat dan mungkin kita semua ditakdirin tidak bisa lebih dari sahabat mungki kakak adik aku bisa Tin tapi kalau pacar aaf deh aku gak bisa kali ini “ kata tegas Toton
“ hmm...kamuu kamu udah ngecewain aku Ton kamu gak ngehargaiin aku bbanget sih aku nyimpan rasa ini selama 1 tahun Ton bayangin dong 1 tahun itu lama To bagi perasaan kamu tolong hargai aku setia Cuma suka kamuu namun ini sia-sia memang aku bukan yang terbaikkk...” kata Titian. Dan titian langsung kaburr dan lari sekecang-kencangnya untuk pulang karena dia kecewa
“ Titin,,...kamu mau kemana Titinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn..????? “ teriak Toton
“ udahlah beri waktu ia biarlah nanti dia juga happy kembali “ kata Menik

Penolakan cinta itu membuat Titian jadi galau dia tidak kelar dari kamar selama 1 minggu dia ters memfikirkan Toton. Dia patah hati sekali dia selalu menangis merenung akan apa kekurangannya karena kenapa dia sampai menolaknya padahal ia ingin sekali kalu Toton adalah jodoh abadi hidupnya
“ tok tok tok...”
“ Titin kamu kenapa kamu gak boleh begini . kamu jadi gak sik kamu beda Tin mana Titian yang kukenal dulu yang selalu ceria, masak hanya gara-gara ini kamu seperti ini sih.” Kata Menik
“ apa katamu masalah gini hanya Hanya kamu memang belum ngerasain Nik. Kamu seharusnya ngertiin aku Nik ( sambil menangis ) “ kata Titian
“ udahlah BROKEN HEART only problem. You must always happy Tin. “ kata Menik
“ ahhhh...Menik aku galau aku Broken heart ya ampun kenapa au gini ak gk bleg gni Semangat !!!!!!!!!!!:)))) kata Titian

Pengikut :

Voting yukss ;))